Thalaq

Thalaq artinya lepasnya ikatan perkawinan dan berakhirnya hubungan perkawinan. menurut asalnya thalaq itu hukumnya makruh berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq.” (Riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim)

Mengenai hukum thalaq ini ada perbedaan pendapat. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa thalaq itu terlarang, kecuali bila diperlukan berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Allah mengutuk orang yang suka mencoba-coba dan suka bercerai.”

Ulama Hanabilah (penganut madzhab Hanbali) memperinci hukum thalaq sebagai berikut:

Thalaq adakalanya wajib, kadang-kadang haram, mubah dan kadang-kadang dihukumi sunah. Thalaq wajib misalnya thalaq dari hakam dalam perkara syiqaq, yakni perselisihan suami isteri yang sudah tidak dapat didamaikan lagi, dan kedua pihak memandang perceraian sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan persengketaan mereka. Termasuk thalaq wajib ialah thalaq dari orang yang melakukan ila’ terhadap isterinya setelah lewat waktu empat bulan.

adapun thalaq yang diharamkan, yaitu thalaq yang tidak diperlukan. Thalaq ini dihukumi haram karena akan merugikan suami dan isteri dan karena tidak ada manfaatnya, maka dikategorikan haram.

Thalaq mubah terjadi hanya apabila diperlukan, misalnya karena kelakuan isteri sangat jelek, pergaulannya jelek, atau tidak dapat diharapkan adanya kebaikan dari pihak isteri.

Thalaq mandub atau thalaq sunnah, yaitu thalaq yang dijatuhkan kepada isteri yang sudah keterlaluan dalam melanggar perintah-perintah Allah, misalnya meninggalkan shalat atau kelakuannya sudah tidak dapat diperbaiki lagi, atau si isteri sudah tidak menjaga kesopanan dirinya.

Thalaq adalah hak suami, karena dialah yang berminat melangsungkan perkawinan, dialah yang berkewajiban memberi nafkah,  dia pula yang wajib membayar maskawin, mut’ah, nafkah dalam ‘iddah. Di samping itu laki-laki adalah orang yang lebih sabar terhadap sesuatu yang tidak disenangi oleh perempuan, laki-laki tidak akan tergesa-gesa menjatuhkan thalaq apabila marah atau ada kesukaran yang menimpanya. Sebaliknya, kaum perempuan itu lebih cepat marah, kurang tabah sehingga ia sering cepat-cepat minta cerai hanya karena ada sebab yang sebenarnya sepele atau tidak masuk akal. Karena itulah, maka kaum perempuan tidak diberi hak untuk menjatuhkan thalaq.

Tinggalkan Balasan