Thalaq Orang yang Mabuk

Ahli fiqh sependapat bahwa thalaq yang diucapkan oleh orang mabuk dianggap jatuh, karena ia sendiri memasukkan unsur yang memabukkan ke dalam kalanya.

Sebagian lainnya menganggap tidak jatuh thalaqnya, dianggap main-main. Mabuk sama dengan gila, karena keduanya menghilangkan akal sedang akal inilah yang menyebabkan seseorang dikenai kewajiban agama.

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengerjakan shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu sadar apa yang kamu ucapkan.” (QS.4, An-Nisa’:43)

Dalam ayat di atas Allah menjadikan mabuk sebagai halangan shalat, karena orang yang mabuk itu tidak memahaminya.

Amirul Mukminin Utsman bin Affan r.a menganggap sah thalaq yang diucapkan oleh orang yang mabuk dan tidak seorang sahabatpun yang membantahnya. Madzhab ini dipegangi oleh sekelompok ulama dan para imam, di antaranya: Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Humaid Abdur Rahman, Rabi’ah guru Imam Malik, Al-Laits bin Sa’ad, Abdullah bin Al-Hasan, Ishaq bin Rahawaih, guru Imam Bukhari, Asy-Syafi’i dalam salah satu qaulnya, Al-Muzani dari golongan Syafi’iyyah, salah satu dari riwayat dari Imam Ahmad dan madzhabnya, demikian pula madzhab Zhahiriyah. Pendapat ini juga dipilih oleh ulama Hanafiyah, seperti Abu Ja’far Ath-Thahawi dan Abul Hasan Al-Kharkhi.

Tinggalkan Balasan