Sepatah Kalimat dari Ibu

Seorang wanita paruh baya menuturkan kisahnya.

“Aku wanita berusia 30 tahunan. Pernah menikah, Memiliki seorang putra dan seorang putri. Tumbuh di sebuah keluarga dengan kondisi ekonomi serba tercukupi. Ayahku bekerja di sebuah kantor dengan jabatan cukup tinggi. Namun sangat disayangkan, beliau tidak merepresentasikan figur seorang ayah bagi kami selain formalitas yang ditampakkannya di hadapan orang-orang. Selain itu, tentu hanya sebatas kewajiban menafkahi keluarga.

Adapun ibuku, beliau adalah pendikte kalimat pertama dan terakhir kepada kami, dan juga kepada ayahku. Namun, aku sendiri tak tahu kenapa. Barangkali karena kepribadian ibu yang amat kuat, atau barangkali karena kecongkakannya atau mungkin juga karena tipu dayanya.

Aku memiliki seorang saudara laki-laki, usianya dua tahun lebih tua daripada aku, serta memiliki seorang adik perempuan, usianya tiga tahun lebih muda dariku.

Semenjak kecil, kami tidak pernah mengenal selain keluarga ibu. Kami saling berkunjung. Sedangkan keluarga ayah, kami tidak begitu mengenal mereka, kecuali sekedar melihat mereka di beberapa kesempatan, itu pun sudah lama sekali. Kami pernah bertanya kepada ibu tentang mereka.

“Mereka rakus terhadap ayah kalian.” itu kata ibu.

“Mereka hanya meminta harta, keuntungan dan pelayanan,” sambung ibu mengomentari perilaku keluarga ayah.

Kalimat yang tiada pernah terhenti dari ucapan ibu, “Aku memiliki bulan yang bersamaku. Milikku dan juga milik bintang-bintang.” Maksud ibu, bahwa dia memiliki suami, ayahku, yang bersamanya. Mengapa ia harus peduli dengan keluarga ayah?!”

Kami besar dengan keadaan keluarga seperti itu. Aku melanjutkan studi ke universitas. Teman kakakku, seorang dokter muda datang melamar. Menurutnya, ia punya masa depan cerah (sebagai jaminan untuk menjalin hubungan denganku). Katanya, akulah mimpi hidupnya. Dia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pekerja keras, bersusah payah membanting tulang demi menyekolahkan anaknya hingga menjadi dokter. Ayahnya single parent, dengan tiga putri yang semuanya siap menjejak pernikahan. Begitulah yang diceritakannya padaku. Aku menerima pinanganya, juga ayahku dan tentu setelah mendapatkan persetujuan dari ibu. Pesta pernikahan pun dilaksanakan, itu setelah suamiku memenuhi segala hal yang dipersyaratkan ibu, berupa apartemen dengan segala perabot rumah tangganya.

Semenjak hari pertama pernikahan, aku telah berupaya untuk menjauhkan suami dari keluarganya. Aku merasa mereka manusia yang sangat sederhana. Aku sikapi mereka dengan dingin ketika mereka mengunjungi kami, supaya mereka bosan dan tidak lagi mau berkunjung. Berbeda dengan suamiku, bilamana aku berkunjung ke keluargaku setiap harinya, dia selalu setia menemaniku dengan penuh suka rela. Namun, sebaliknya, bilamana suamiku mengajakku berkunjung ke keluarganya, aku seringkali menolaknya dengan seribu satu alasan. Meskipun aku sendiri belum pernah mendengar atau melihat satu ketidak-ramahan mereka terhadapku selama pernikahan, bahkan setelahnya. Demikian ini sering aku sampaikan kepada ibu, dan beliau selalu mengucapkan kata-kata yang sama, yang sangat akrab di telingaku, “Engkau bersama bulan, milikmu dan milik para bintang. Mereka berharap nafkah darinya!”

Kami mendapatkan karunia dari Allah, satu putra dan satu putri. Tiada dapat aku ungkapkan betapa bahagianya hati suami dengan kelahiran mereka.

“Mereka berdua adalah seluruh hidupku. Jiwaku terikat erat dengan mereka berdua dan aku tiada mampu berpisah dari mereka, walau satu jam saja.” Tiada henti-hentinya kata ini diucapkannya padaku.

Sampai pada suatu hari di bulan Ramadhan, suamiku memintaku untuk menyiapkan hidangan berbuka, karena adiknya, calon suaminya, dan kedua orang tuanya akan datang bersamanya ikut berbuka di rumah kami. Ketika itu, aku mendengar bahwa suamiku yang akan menanggung segala biaya dan kebutuhan pernikahan adiknya. sebab kedua orang tuanya tidak mampu membiayainya. Dan, satu jam sebelum mereka datang, suamiku terkaget-kaget sebab aku belum juga menyiapkan hidangan apapun untuk berbuka. Hal yang membuat suamiku sangat panik. Dia pun bergegas memesan makanan dari sebuah restoran dan mereka tidak mengendus apa-apa perihal ini. Suamiku menyampaikan kepada mereka, bahwa aku sedang sakit. mereka pun menyantap hidangan berbuka, lalu mereka pulang.

Suamiku melihatku di kamar. Dia pun masuk. Dia tampak marah sekali dan sempat terjadi perang mulut di antara kami. Dia bertanya-tanya, bagaimana aku tega membuatnya pada posisi semacam itu. Ia Katakan pula bahwa selama ini dia telah banyak bersabar menghadapiku. Akan tetapi ketika dia telah terhina, dia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan semua ini.

Aku pun sampaikan padanya kabar yang telah kudengar, yaitu tentang persiapan pernikahan adiknya yang katanya akan ditanggungnya. Saat itu, aku kira dia akan mengingkari hal itu. Namun apa yang kudengar darinya.

“Iya. Aku menafkahi keluargaku. Aku juga yang akan mempersiapkan segala hal untuk pernikahan adikku. Dan, tidak hanya dia, bahkan ketiga adikku juga. Ayah telah susah payah membanting tulang demi aku hingga aku menjadi seperti ini. Bahkan, aku tidak akan menolak bilamana suatu hari nanti ayah memintaku untuk menanggalkan seluruh pakaianku untuk diberikan padanya.” katanya kepadaku.

Aku tidak kuasa lagi mendengar apa yang diucapkannya. Aku pun berupaya melawan. Akhirnya, tamparan tangannya mendarat di wajahku. Aku merasa bumi yang ku pijak telah runtuh. Aku dibuatnya terjatuh, pingsan. Sungguh, bagai gelombang pasang air laut yang menerpa dengan dahsyatnya. Bergegas aku bawa anak-anakku, dan kutinggalkan rumah. Aku pulang ke rumah ibu.

Seperti biasa, ibu marah dan mengeluarkan sumpah serapah serta olokan kepada suamiku atas apa yang telah dilakukannya terhadapku.

Akan tetapi, saat keadaan hati cukup tenang, suamiku datang menjemput, minta maaf dan memintaku untuk pulang. Tidak ada yang dimintanya dari ibuku selain memberikan padanya kesempatan. Dia memberiku kesempatan untuk berpikir.

Ibu memintanya untuk mengalihnamakan tanah miliknya dengan namaku dan membuatkanku rekening berisi sejumlah uang di sebuah bank, dan seterusnya. Namun, suamiku menolak segala permintaan itu, dan meminta agar tidak ada yang ikut campur terhadap urusan kami. Tapi aku mengelak dan kuangkat kepalaku. Masalah pun semakin runyam. Aku meminta cerai. Namun dia menolak. Aku pun bersikukuh, kemudian melakukan upaya mengajukan gugatan Khulu’. Kalau saja dia mengetahui hal ini, dia mungkin akan segera menceraikanku dengan jalan damai dan meninggalkan sebuah apartemen untukku serta memberikanku sisa mahar, nafkah dan segala hakku dan juga tambahan lainnya. Dan aku pun meminta lebih, terdorong oleh rasa marahku yang sudah tak dapat kukuasai lagi. Bagaimana dia bisa menceraikanku, padahal dia pernah berjanji akan mati demi aku. Bagaimana bisa dia melepaskan begitu saja anak-anak, darah daging dan keturunannya, di mana cinta kasih?! Tiada pernah terbayang olehku bahwa suatu hari dia akan berani melakukannya. Aku tidak memberikannya kesempatan untuk sekedar melihat kedua anaknya, kendati aku tahu bahwa anak-anak adalah titik kelemahannya.

Setelah terjadi sedikit percekcokan dengannya, akhirnya ia gagal. Walau berbagai upaya telah ia lakukan. Pengadilan memberikan kesempatan baginya untuk dapat melihat putra-putrinya sehari sepekan di balai pertemuan. Dengan segala cara, aku melarang putra-putriku untuk menemuinya.

Kami bertahan dengan kondisi semacam ini. Sampai suatu ketika aku mendengar dia akan meminang seorang dokter, temannya mengajar di sebuah universitas. Aku pun memberontak, dan bergegas pergi menemuinya di tempat kerjanya, tidak terima atas rencananya. Dia pun berkata, “Sungguh, anakku sangat menyayangiku dan akulah yang telah melenyapkan cinta ini dari hati keduanya, hingga mereka sekarang tiada mampu lagi untuk melihatku, ayahnya. Akibat apa yang telah kulakukan, juga aib yang telah kau perbuat. Kutinggalkan mereka dan kuberpaling dari mereka. Setelah aku merasa rasa cinta dan rasa hormat mereka  padaku telah hilang, sampai datang suatu hari yang dijanjikan!”

Pada hari ulang tahun putraku, bel pintu berbunyi, Kulihat suamiku di balik pintu dengan sebuah hadiah di tangannya. Aku tidak mengizinkannya masuk walau sekadar untuk melihat anak-anak. Namun kakakku, dengan berteriak, hendak mempersilahkannya masuk. Hanya saja dia tidak dapat berbuat apa-apa setelah kami, aku dan ibu bersikukuh untuk tidak membiarkannya masuk, bahkan mencelanya. Melihat itu, kedua anakku menangis, meminta untuk ikut bersama ayahnya. Namun aku memasukkan mereka ke dalam kamar, kuusir dia dan dia pun keluar, meninggalkan hadiah untuk putranya.

“Hasbiyallah wa Ni’ma Al-Wakil. Aku berharap ini adalah upaya terakhirku. Namun ternyata engkau tetap saja bersikeras,” ucapannya sebelum berlalu.

Dan, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun atas apa yang telah kuperbuat. Tidak lama setelah dia keluar dari pintu rumah, terjadi percekcokan antara kami, aku, ibu dan kakakku. Di tengah-tengah percekcokan, tanpa sepengetahuan kami, putraku masuk ke balkon, berteriak memanggil ayahnya. Ayahnya tiada menoleh padanya, sampai hilang keseimbangannya dan…

Anakku terjatuh dari lantai empat.

“Braaaaaak!” Suara jatuh anakku dan pekik teriakan dari jalan mengagetkan kami!

Kami bergegas lari ke balkon. Kudapati putraku telah terkapar di tanah dengan tubuh bersimbah darah. Bergegas aku lari turun. Dan sampai sekarang, tiada pernah kutahu bagaimana kedua kakiku bisa membawaku turun menapaki satu demi satu anak tangga itu. Kulihat suamiku telah terduduk di tanah dan putraku telah berada di pangkuannya. Pakaianannya besimbah darah. Segera kami bawa ia dengan mobil yang dikemudikan tetangga kami ke rumah sakit terdekat berharap putraku dapat di selamatkan. Sayangnya sudah terlambat. Beberapa menit berselarang, putraku meregang nyawa. Tiada yang dapat menghapus ras pilu dan duka laraku, selain apa yang ku lihat dirumah sakit saat itu. Suamiku tersungkur, bersujud kepada-Nya, memohon agar diberikan-Nya ketabahan dan kesabaran.

Hari demi hari berlalu, dan aku tiada tahu apa yang telah terjadi. Aku merasa telah berada di alam lain. Namun aku tahu apa yang terjadi pada  suamiku, dia meninggalkan pekerjaannya, menutup kliniknya, menyukur habis jenggotnya dan menjauh dari manusia. Kesehatannya pun mulai menurun. Kehidupannya tampak berantakan, benci akan dunia dan segala isinya. Aku berupaya menemuinya. Namun ia menolakku.

Sedangkan putriku, semenjak peristiwa itu, ia tidak kuasa melihat wajahku lagi dan tida pula mau melihat ayahnya. Ia memilih tinggal bersama pamannya, Kakakku.

“Ibu, Engkaulah penyebab kematian kakak, Aku benci Ibu. Aku benci ayah, juga nenek dan semua orang!” ucapnya padaku.

Saat ini, aku siap bilapun harus mencium kaki suamiku, demi mendapatkan maaf darinya. Bukan berharap dia akan kembali padaku. Hanya agar dia berkenan memaafkanku, atas apa yang telah kulakukan. Cukuplah siksa Allah bagiku, juga terhalanginya aku dari manatap putraku dan permata hatiku, dengan cara yang tiada akan terhapus dari ingatanku. sepanjang hidup, aku berharap suamiku berkenan memaafkan, demi putriku yang semakin rapuh. Kian hari, kesehatannya kian memburuk, Dan aku tidak kuasa kehilangan dia, permata hatiku yang tinggal satu-satunya. Bukan lagi air mata, namun darah yang mengalir di pipiku. Segala duka lara dan kesedihan di dunia ini tidak cukup bagiku dan rasa sesal akan tetap membayangiku, menghantuiku disepanjang sisa usia. Dan, Semoga Allah mengampunkan ibuku. Dialah penyebab semua itu!

Tinggalkan Balasan