Pahala Belajar, Mengarang dan Mengajar

Pahala Belajar, Mengarang dan Mengajar 

  1. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Ada amal baik seorang muslim yang akan tetap mengalir meskipun dia sudah meninggal. Yaitu, ilmu yang dia ajarkan, anak shaleh, karya yang dia wariskan atau masjid yang dia bangun, rumah yang dibangun untuk musafir, saluran irigasi yang dia buat, dan sedekah yang dia keluarkan ketika dia masih hidup dan sehat.” (HR Ibnu Majah)
  2. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seseorang meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara berikut: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)
  3. Abu Qatadah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Peninggalan paling baik setelah mati ada tiga: anak shaleh yang selalu mendoakan, sedekah yang pahalanya selalu mengalir dan ilmu yang bermanfaat.” (HR Ibnu Majah)
  4. Sahl bin Mu’adz meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mengajarkan ilmu mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala si pengamal sedikitpun.” (HR Ibnu Majah)
  5. Samurah bin Jundub r.a meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sedekah seseorang yang sebanding dengan ilmu yang dia ajarkan.” (HR ath-Thabrani)
  6. Anas meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan orang yang paling dermawan? Allah-lah yang paling dermawan. Aku adalah cucu Adam yang paling dermawan. Yang paling dermawan setelah aku adalah orang yang memiliki ilmu lalu dia ajarkan, dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat nanti sebagai umat yang satu. Dan seorang lelaki yang mendermakan jiwanya kepada Allah hingga dia gugur.” (HR al-Baihaqi)
  7. Sahl bin Sad r.a meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang memperoleh petunjuk melalui dirimu, itu lebih baik bagimu dari kekayaan yang berlimpah.” (HR Abu Dawud)
  8. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menyeru kebaikan, dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengamalkan seruannya, tanpa harus mengurangi pahala si pengamal sedikitpun. Sebaliknya, orang yang menyeru kejahatan, dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya, tanpa harus mengurangi dosa si pengamal sedikitpun.” (HR Muslim)
  9. Ibnu Mas’ud mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah melimpahkan karunia-Nya kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku, kemudian dia sampaikan kepada orang lain sebagaimana yang dia dengar. Orang yang menyampaikan, itu sedikit sekali yang melaksanakan ucapannya daripada yang mendengar.” (HR Abu Dawud)
  10. Zaid bin Tsabit mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah melimpahkan karunia-Nya kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku, kemudian dia sampaikan kepada orang lain. Banyak sekali orang yang mengajar fikih, sementara yang diajari lebih memahaminya. Begitu juga, banyak sekali orang yang mengajar fikih, sementara dia bukan ahli fikih. Ada tiga hal yang tidak membelenggu hati seorang Muslim. Yaitu, beramal ikhlas karena Allah, menasehati para penguasa dan tidak meninggalkan jamaahnya, karena doa mereka berada dari belakangnya. Allah pasti mengacaukan urusan orang yang hanya berniat mencari dunia. Allah juga menjadikan kefakiran menghantuinya. Dunia hanya dapat dia peroleh sesuai dengan takdir-Nya. Sebaliknya, Allah pasti menyukseskan urusan orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Allah juga menjadikan kepuasan di dalam hatinya. Dunia pasti tunduk kepadanya.” ( Ibnu Hibban)
  11. Abu ar-Rudain meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Hanya tamu orang yang berkumpul untuk belajar Al-Qur’an dan saling menyantuni, maka mereka menjadi tamu Allah. Para Malaikat menaungi pertemuan mereka hingga pertemuan itu selesai atau mereka mengganti topik pembicaraan. Setiap orang alim yang belajar karena takut dia segera meninggal atau takut ilmu tersebut dihapus, maka dia bagaikan orang yang berjuang di jalan Allah. Orang yang amalnya diperlambat, maka nasabnya tidak dipercepat.” (HR Ibnu Hibban)

   ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apakah saya lebih baik shalat tahajud atau menulis?” ayahnya menjawab, “Menulislah!.”

Ayah Ahmad bin Hanbal menjawab demikian, karena ilmu akan lebih bermanfaat bagi orang lain, dan penulisnya akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang membaca dan mengamalkannya, baik ketika masih hidup atau setelah mati nanti. Sementara pahala shalat tahajud, hanya dia peroleh dari amalnya sendiri.

Tinggalkan Balasan