Balasan Bagi Yang Meremehkan Al-Qur’an

Muhammad Ath-Thahir bin Asyur menuturkan dalam tafsirnya At-Tahrir wa At-Tanwir, sebuah hikayat yang termaktub dalam tafsir Al-Kassyaf di penghujung tafsir surat Al-Mulk ayat 30.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (QS. Al-Mulk:30).

diceritakan sebuah kisah bahwa seorang dokter bernama Muhammad bin Zakaria, tatkala ayat tersebut dibacakan di hadapannya, ia berkata dengan mengejek, “Kapak dan cangkullah yang dapat mendatangkan air”.

Tak lama setelah kata-kata itu diucapkannya, air matanya mengering. kami berlindung kepada Allah dari keberanian terhadap-Nya dan ayat-ayat-Nya. Wallahu a’lam.

Itulah balasan yang setimpal. Ia telah menghina ke Mahakuasa-an Allah yang dapat melenyapkan air dan mengeringkan sumur. Maka, Allah pun mengeringkan air matanya. Demikian ini adalah siksa yang disegerakan baginya di dunia. Andaikata ia tidak bertaubat, niscaya siksa akhirat dari-Nya jauh lebih berat dan kekal. Kami berlindung kepada Allah dari keterlantaran dan dari penghinaan terhadap ayat-ayat-Nya.

Dalam buku Shaid Al-Khathir, Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah menceritakan sebuah hikayat, bahwa ada seorang lelaki menulis sebuah mushaf. lalu ditanyakan padanya perihal durasi waktu penulisannya.

“Dalam enam hari, dan kami sedikit pun tidak merasa keletihan,” Jawabnya.

Secara tiba-tiba, tangannya lumpuh, tak dapat digerakkan.

Dalam kisah perjalanan mencari hadits oleh Al-Khatib Al-Baghdadi disebutkan: Abu Al-Husain Ali bin Muhammad bin Thalhah, seorang dai dari kota Ashbahan menceritakan kepada kami dari Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabrani, dia berkata, “Saya mendengar Abu Yahya Zakaria bin Yahya As-Saji berkata, “Kami pernah berjalan melewati sebuah gang di kota Bashrah. Tatkala sampai pada sebuah pintu rumah milik seorang ulama hadits, kami mempercepat langkah. Saat itu, kami bersama seorang pria tak berakhlak dan patut dipertanyakan keberagamaannya,”

“Angkat kaki kalian, para malaikat sedang membentangkan sayap, agar kaki kalian tidak mematahkannya,” katanya meremehkan.

Sejurus kemudian, kedua kakinya terpeleset dan dia pun terjatuh ke tanah.

Dalam kumpulan fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah disebutkan bahwa Al-Qadhi Abu Thayyib Ath-Thabari berkata, “Suatu ketika, kami sedang duduk santai di masjid jami kota Baghdad, tiba-tiba seseorang dari Khurasan bertanya kepada kami tentang hukum mengikat susu kambing atau binatang ternak lainnya agar tampak berisi air susunya. Kami pun menjawab pertanyaannya dengan berargumentasi menggunakan hadits riwayat sahabat Abu Hurairah. kemudian dia mencela sahabat Abu Hurairah. Tiba-tiba, seekor ular jatuh dari atap, masuk ke halaqah dan menghampri si penanya dari Khurasan itu, lalu mematuknya hingga mati.”

Hal senada dituturkan oleh Ath-Thabrani dalam Kitab As-Sunan, dari Zakaria bin Yahya As-Saji. Dia berkata, “Suatu ketika kami pernah tertinggal dari pengajian hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam oleh seorang guru ahli hadits. Maka kami pun bergegas mempercepat langkah. Saat itu, kami bersama seorang pemuda tidak beretika.

“Angkat kaki kalian, supaya tidak menginjak sayap-sayap para malaikat, karena itu akan mematahkannya.” kata pemuda itu meremehkan.

Shahibul hikayat berkata, “Tiba-tiba kedua kakinya tergelincir dan tubuhnya pun terbanting ke tanah.” Ini patut menjadi renungan. kami senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan anugerah untuk berpegang teguh dengan kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengikuti petunjuk keduanya. Wallahu a’lam.

Dalam Bustan Al-Arifin karya Imam An-Nawawi disebutkan: Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabrani berkata, “Saya mendengar Abu Yahya Zakaryya bin Yahya As-Saji Rahimahullah berkata, “Suatu ketika, kami berjalan melewati beberapa gang kota Bashrah. Ketika mendekati pintu rumah sebagian ahli hadis, kami mempercepat langkah. Saat itu kami bersama seorang pria yang rendah tingkat keberagamaannya. “Angkat kaki kalian, supaya tidak menginjak sayap-sayap para malaikat, hingga mematahkannya.” kata pemuda itu mempermainkan kandungan hadits Nabi tentang keutamaan majelis ilmu. Dan secara tiba-tiba, kedua kakinya membantingnya jatuh ke tanah.

Terkait kisah ini Al-Hafizh Abdul Hafizh berkomentar, “Sanad hikayat ini seperti layaknya kita melihatnya dengan mata kepala kita sendiri, sebab diriwayatkan oleh para ulama hadits yang kredibel.”

Dalam riwayat lain yang bersambung kepada Al-Maqdisi, Abu Dawud Al-Sijistani berkata, “Pada sebuah majelis ahli hadits ada seorang pria muda tidak beretika. Ketika dia mendengar sebuah hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menceritakan bahwa para malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya kepada para pencari ilmu sebagai doa kebaikan bagi mereka, pria itu meletakkan paku besi pada kedua tumitnya seraya berkata, “Aku ingin menginjak sayap-sayap malaikat.” kemudian kedua kakinya pun terluka.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Muhammad bin Al-Fadhl At-Thaimi Rahimahullah menyebutkan hikayat ini dalam bukunya Syarah Shahih Muslim, dengan tambahan: dan kedua kakinya, pun kedua tangannya, serta seluruh anggota tubuhnya lumpuh tidak bisa digerakkan.

Shahibul Hikayat menceritakan, “Saya pernah membaca sebuah hikayat bahwa ketika sebagian ahli bid’ah mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidur, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam wadah, sampai ia mencuci tangannya terlebih dahulu. Sebab ia tidak mengetahui kemana tangannya bergerak saat ia terlelap.”

Seraya meremehkan, ahli bid’ah itu berkata, “Saya tahu kemana tanganku bergerak ketika di atas ranjang tidur.” kemudian, pagi hari saat ia terbangun dari tidurnya, ternyata seluruh bagian tangannya telah masuk ke dalam liang duburnya. At-Taimi berkata, “Janganlah sampai seseorang berani meremehkan sunnah-sunnah Rasul dan hal-hal yang telah ditetapkan dalam nash.” Mari kita renungkan bagaimana balasan yang di dapatkan kedua pria itu akibat dari perilaku buruknya.

Tinggalkan Balasan