Pahala Belajar dan Mengajar

  1. Shafwan bin ‘Assal al-Muradi pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang bersandar pada serban merahnya di Masjid. Shafwan menyapanya, “Ya Rasulullah, saya datang untuk belajar.” Beliau bersabda, “Selamat datang, penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu dinaungi oleh sayap para malaikat, antara satu malaikat dengan lainnya saling berpegangan, hingga mereka sampai ke langit dunia. Hal itu mereka lakukan karena cinta mereka terhadap penuntut ilmu.” ( Ahmad)

Shafwan bin ‘Assal mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat pasti menghamparkan sayapnya untuk setiap orang yang keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, karena cinta mereka terhadap penuntut ilmu.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Abu ad-Darda mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah membukakan pintu Surga, dan malaikat menggelar permadani bagi orang yang pergi menuntut ilmu semata-mata karena Allah. Selain itu, para malaikat yang ada di langit dan ikan yang ada di samudera turut mendoakannya. Keutamaan orang alim di banding ahli ibadah seperti perbandingan antara bulan purnama dengan bintang terkecil yang berada di langit. Ulama adalah pewaris para Nabi. Perlu diketahui, bahwa para Nabi tidak mewariskan emas maupun perak, tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa saja yang mengambilnya, maka dialah yang beruntung, meninggalnya seorang alim merupakan musibah besar, kekosongan yang tidak terisi, dan ibarat bintang yang sudah redup serta tertutup awan. Musnahnya satu suku lebih kecil pengaruhnya daripada kepergian seorang alim.” ( Abu Dawud)
  2. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang belajar satu, dua, tiga, empat atau lima kalimat yang merupakan kewajiban dari Allah, kemudian dia ajarkan kepada orang lain, dia pasti masuk Surga.” Abu Hurairah berkata, “Sejak saat itu saya tidak pernah lagi lupa satu hadis pun yang saya dengar dari Rasulullah.” ( Abu Nu’aim)
  3. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah yang paling baik adalah seorang muslim yang belajar kemudian mengajarkannya kepada muslim lain.” ( Ibnu Majah)
  4. Abu Dzar meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Kepergianmu untuk mengajarkan satu ayat al-Qur’an itu lebih baik daripada shalat seratus rakaat. Kepergianmu untuk mengajarkan satu bab ilmu, baik ilmu itu di amalkan orang atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu rakaat.” ( Ibnu Majah)
  5. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian melewati taman Surga, maka menunduklah.” Mereka bertanya,Apa yang dimaksud dengan taman Surga itu, Rasul?” beliau menjawab, “Majelis ilmu.” ( ath-Thabrani )
  6. Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari genggaman orang mukmin. Di manapun mereka menemukannya, mereka berhak mengambilnya.” ( at-Tirmidzi)

Rasulullah SAW mengumpamakan hikmah dengan sesuatu yang hilang, maksudnya: Seorang mukmin harus selalu mencari hikmah dan berusaha mendapatkannya. Sebagaimana orang yang sedang kehilangan, dia akan mencari barangnya yang hilang sampai ketemu.

Di sini tersirat makna lain: Setelah seseorang menemukan barangnya yang hilang, dia tidak akan meninggalkannya begitu saja meskipun barang tersebut kurang berharga. Begitu juga pencari ilmu, dia tidak segan untuk belajar kepada siapa saja. Ada lagi makna lain: Orang yang menemukan barang hilang milik orang lain, tidak boleh menyembunyikan dan menahannya dari si pemilik, karena pemiliknya lebih berhak terhadap barang tersebut. Demikian juga orang alim, dia tidak boleh menyembunyikan ilmu yang dia miliki dari pencarinya, ilmu tersebut merupakan barang berharga mereka yang hilang dan mereka lebih berhak terhadap barang tersebut, si penemu harus mengembalikannya kepada si pemilik.

  1. Qabishah bin al-Mukharriq pernah mendatangi Rasulullah. Saat itu dia ditanya oleh Nabi, “Qabishah, ada apa?” Qabishah menjawab, “Ya Rasulullah, usia saya sudah tua, tulang belulang saya sudah mulai rapuh, saya datang kemari agar Anda mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi saya.” Beliau bersabda, “Qabishah, setiap bebatuan dan pepohonan yang kamu lewati pasti memohonkan ampun bagimu.” ( Ahmad)
  2. Abu Umamah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang berangkat ke Masjid untuk mempelajari atau mengajarkan kebaikan, maka dia mendapat pahala seperti pahala haji yang sempurna.” ( ath-Thabrani)
  3. Anas meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang pergi menuntut ilmu itu seperti berperang di jalan Allah sampai dia kembali.” ( at-Tirmidzi)

Abu Hurairah pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang datang ke Masjidku ini (Masjid Nabawi) dengan tujuan belajar atau mengajar kebaikan, kedudukannya sama dengan orang yang berperang di jalan Allah. Sebaliknya, orang yang datang dengan tujuan lain,  maka kedudukannya sama seperti orang yang hanya memandang kekayaan orang lain.” (HR Ibnu Majah)

  1. ‘Ali meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang yang memakai sandal atau sepatu dan memakai pakaiannya untuk menuntut ilmu, maka dosa-dosanya telah diampuni sejak dia berangkat dari rumah.” ( ath-Thabrani)
  2. Watsilah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Allah mencatat dua pahala bagi orang yang menuntut ilmu dan berhasil menguasainya. Sebaliknya, Allah mencatat satu pahala bagi orang yang menuntut ilmu, namun dia gagal.” ( ath-Thabrani)
  3. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang meninggal pada saat menuntut ilmu, ketika dia bertemu dengan Allah, maka hanya derajat kenabian yang membedakannya dengan para Nabi.” ( ath-Thabrani)
  4. Abu Hurairah berkata, “Satu bab yang dipelajari seseorang, lebih dicintai Allah daripada seratus rakaat shalat sunah.” Dia juga meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, “Kematian penuntut ilmu adalah syahid.” ( al-Bazzar)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Mendalami satu bidang ilmu di sebagian malam, lebih saya sukai dis- banding shalat sunah.”

Abu ad-Darda berkata, “Saya lebih suka mempelajari satu permasalahan ketimbang shalat malam.” Dia juga berkata, “Orang yang mengatakan, bahwa mencari ilmu tidak termasuk jihad, maka akal dan pikiran orang tersebut adalah dangkal.”

   Imam Syafi’i berkata, “Menuntut ilmu itu lebih utama daripada shalat sunah.”

Tinggalkan Balasan