Komposisi Walisongo

Anggota Walisongo mempunyai banyak versi, menurut P.S Sulendraningrat dalam Babad Cirebon dan Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Walisongo. Justru Agus Sunyoto memasukkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Walisongo. Namun sayang sekali pihak-pihak yang mengeluarkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dari anggota Walisongo dengan memasukkan Syekh Siti Jenar tanpa alasan argumentatif. Padahal Ricklefs dengan tegas menyatakan bahwa Malik Ibrahim adalah salah seorang dari Sembilan wali Islam yang pertama di Jawa (Wali Songo).

 

Jumlah Wali yang berdakwah di Tanah Jawa banyak sekali, dan mereka tidak hidup dalam satu masa, walaupun sampai sekarang belum pernah ada kesepakatan siapa yang termasuk dewan Walisongo. Akan tetapi pada umumnya, sebagaimana penuturan Dadan Wildan yang dikenal masyarakat terutama di kalangan orang Jawa hanya Sembilan sebagai anggota Walisongo, yaitu:

  1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
  2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
  3. Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yakin
  4. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
  5. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
  6. Sunan Drajat atau Raden Qasim
  7. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq
  8. Sunan Kalijogo atau Raden Sahid
  9. Sunan Muria atau Raden Umar Said

Para anggota Walisongo diyakini oleh sebagian besar masyarakat terutama orang Jawa sebagai tokoh intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat Jawa pada masanya. Mereka cukup produktif dalam membentuk peradaban baru, mulai dari kesehatan, pertanian, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan dan pemerintahan sehingga mereka bisa dikatakan sebagai Broker Peradaban di tengah masyarakat Jawa.

 

Dalam rangka mempertajamkan pengetahuan kita tentang sosok mereka yang dikaburkan oleh penulisan versi dongeng atau cerita kethoprak sehingga sosok dan ajaran mereka kabur, maka perlu adanya telaah kritis dalam kajian obyektif, sehingga muncul fakta baru tentang ajaran dan dakwah Walisongo, akhirnya segera bentuk mitos dan dongeng yang menyelimuti mereka terkikis pelan-pelan.

Tinggalkan Balasan