Lupakan Semua Kesusahan

Jika anda sedang melakukan tugas untuk menanggulangi suatu problem, hiburlah diri anda dengan melakukan hobi yang anda sukai, seperti membaca atau melakukan kegiatan apa pun, karena kegiatan yang anda lakukan dalam kondisi seperti ini akan menempati peran kecemasan yang menghantui diri anda, sebab Allah tidak sekali-kali menjadikan bagi seseorang dua kalbu dalam rongganya. Misalkan seseorang sekarang sedang menghadapi masalah anaknya yang sakit, maka sudah barang tentu orang tua anak, baik ayah atau ibunya, akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan berkaitan dengan pengobatan anaknya secara detail. Sesudah itu hendaklah ia menggunakan waktu luangnya untuk melakukan kegiatan yang berguna selama merawat anaknya.

 

Orang yang sedang berada dalam kesulitan masa kininya sebaiknya mengingat problem masa lalunya yang sulit dipecahkan, terutama sekali problem yang  lebih berat daripada apa yang dialaminya sekarang. Selanjutnya, hendaklah ia mengingat saat Allah memberinya taufiq untuk memecahkannya, sehingga yang tersisa dari kenangannya akan membuatnya tersenyum dan menambah rasa percaya diri untuk menghadapi problem masa kininya. Jika seseorang mau mengingat hal tersebut, niscaya ia akan merasakan problem hari ini sama dengan problem lainnya yang pernah terjadi pada masa lalu. Ia akan berlalu dan dengan izin Allah akan beroleh solusinya dan akan menjadi baik kembali seperti sediakala.

 

Hendaknya seseorang mencari sisi positif dari problem yang di alaminya, meskipun problem yang dialaminya lebih berat dan lebih banyak sisi negatifnya. Ibnul Juziy sehubungan dengan hal ini mempunyai solusi yang sangat berguna melalui ungkapan berikutnya:

“Barang siapa yang mendapat musibah, hendaklah yang bersangkutan membayangkan musibah yang jauh lebih berat daripadanya, niscaya musibah itu akan terasa ringan olehnya. Hendaklah ia juga membayangkan pahala yang bakal diraihnya dan membayangkan sekiranya musibah itu lebih besar, niscaya dia akan merasa beruntung dengan musibahnya sekarang yang lebih ringan. Hendaklah ia memandang bahwa musibahnya itu akan cepat berlalu, karena sesungguhnya andaikata tidak ada tekanan kesulitan dalam musibah, niscaya tidak akan diharapkanlah saat kelapangannya.”

Tinggalkan Balasan