Kewajiban Istri Terhadap Suami

Suami mempunyai beberapa hak yang  menjadi kewajiban istri terhadap suaminya. Di antaranya, istri harus patuh kepada suaminya asal tidak diperintah berbuat maksiat, menjaga diri dan menjaga kekayaan suaminya, tidak melakukan perbuatan yang memuakkan suaminya, istri jangan cemberut, jangan menampakkan hal-hal yang membuat suaminya tidak senang kepadanya. Inilah hak-hak suami yang terbesar.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik perempuan (istri) ialah yang apabila kamu memandangnya akan menyenangkan hatimu, apabila kamu perintah ia mematuhimu, bila kamu pergi ia menjaga dirinya dan menjaga hartamu.” (Riwayat Nasi)

Allah SWT menggambarkan perempuan yang baik dalam firmannya: “Perempuan yang saleh adalah perempuan yang taat kepada Allah dan menjaga diri di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (QS.4 An-Nisa:34)

 

Perempuan qanitaat ialah perempuan yang taat kepada Allah dan menjaga diri sewaktu suaminya tidak di rumah dan tidak mengkhianati suaminya.

Ibnu Abbas berkata: “Seorang perempuan datang menghadap Rasululla SAW dan berkata, ‘Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum perempuan untuk menghadap tuan. Ada jihad yang diwajibkan kepada kau lelaki, apabila mereka menang, mereka akan mendapat pahala, kalau mereka terbunuh, mereka akan tetap hidup disisi Tuhannya, mereka tetap mendapatkan rezeki. Sedang kami kaum perempuan, kamilah yang memelihara mereka, kami akan memperoleh apa?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sampaikan kepada kaum perempuan yang kamu temui, bahwasanya taat kepada suami, memenuhi hak-hak suami sama pahalanya dengan jihad, tetapi sedikit sekali di antara kalian yang melakukannya.”

 

Apabila seorang perempuan salat lima waktu, berpuasa sebulan, menjaga kehormatannya, taat kepada suaminya, maka akan diserukan kepada mereka: ‘Masuklah ke Surga dari pintu mana saja yang kamu suka.’ (Riwayat Ahmad dan Thabrani)

 

Termasuk kewajiban seorang istri terhadap suaminya ialah bahwa istri tidak menolak keinginan suaminya, tidak boleh berpuasa sunah kecuali dengan izin suaminya, kalau ia tetap berpuasa, ia malah berdosa dan puasanya tidak diterima. Istri tidak boleh memberikan sesuatu yang ada di rumahnya kecuali dengan izin suaminya, apabila ia melakukannya juga, maka pahalanya untuk suaminya dan ia menanggung dosanya. Istri tidak boleh keluar rumah, ia akan dikutuk Allah dan para Malaikat sampai ia pulang kembali ke rumahnya, meskipun suaminya itu zalim. Istri tidak boleh mengerjakan ibadah haji sunah kecuali dengan izin suaminya. Apabila istri menolak diajak suaminya ke tempat tidur hingga suaminya tidur dengan marah, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi. Semuanya ini apabila suami menyuruh untuk melaksanakan kebaikan, sedangkan apabila disuruh melaksanakan perbuatan maksiat, maka istri tidak wajib melaksanakan, karena tidak boleh taat kepada makhluk istrinya berbuat maksiat, maka jangan dituruti, meskipun si suami akan marah kepadanya.

Tinggalkan Balasan